Sekian banyak hujatan yang ditujukan kepada idolacilik, sebuah reality show pencarian bakat anak-anak dalam olah vokal, sebuah hujatan yang substansinya tidak mengena sebagai suatu masukan positif adalah statemen tentang kurang pantasnya anak-anak menyanyikan lagu orang dewasa.
Statemen ini tidak begitu mengana dibandingkan statemen lain yang mengarah pada sikap antipati terhadap reality show tersebut, seperti durasi komentator “berperang “ bersama Okky Luqman si host acara tersebut, atau saat Okky luqman sengaja mengulur-ulur waktu demi menaikkan rating yang intinya bermuara pada bertambahnya nilai sponsoring untuk idola cilik.
Dalam kasus ini jelas bukan alasan tepat untuk menempatkan Okky luqman sebagai “tersangka” di balik penguluran waktu yang menjemukan itu.
Jelas produserlah dan yang bertanggung jawab dibalik semua ini, Okky hanya bertanggung jawab sebgai host yang dibalik otoritas confidencenya di atas panggung, tersimpan script yang atas kode-kode tertentu dia bertindak tak lebih sebagai wayang yang dimainkan oleh dalang.
Sedangkan dalam urusan anak-anak kecil yang menyanyikan lagu dewasa dari beberapa aspek tertentu (kecuali agama) mungkin bisa dianggap sah-sah saja.
Kembali pada tujuan reality show tersebut demi mengukur performance kontestan diatas panggung baik dari segi koreografi, artikulasi hingga improvisasinya.
Apakah bukan menjadi suatu paksaan analogis bila talenta bakat menyanyi dan manggung mereka harus diukur dengan “mengendarai” lagu “naik-naik ke puncak gunung”, “pelangi-pelangi” , “bintang kecil” dsb.
Dengan lagu-lagu sesederhana itu, dimana mereka harus menaru improvisasi?
Untuk kepandaian berkoreografi apa menjadi tidak aneh bila mereka hanya berjalan menunduk dengan mimic wajah mengkerut, bak menhan tanjakan di jalan gunung yang terjal bila mereka sedang menyanyikan lagu “Naik-Naik Ke Puncak Gunung”.
Hematnya, lagu-lagu anak-anak tidak memiliki ruang yang cukup sebagai sarana mengukur sebuah bakat.
Lebih memiliki bobot dalam statemen ini adalah punahnya perbendaharan lagu anak-anak di era 2.000an ini. Apa yang bisa disalahkan oleh mereka bila tiap hari yang melintas di telinga mereka adalah lagu orang dewasa? Sementara system kecerdasan otak muda mereka sangat mudah sekali untuk tidak begitu sulit menghafal lirik-liriknya.
Bila diilustrasikan, dalam keadan kehausan dengan sangat tanpa tersedia segelas minumanpun kecuali soft drink berbahan pengawet, seorang anak kecil haruskah memilih berpuasa dan mati konyol, atau memperthankan hidupnya?
soerang berpendapat minumlah soft drink tersebut, walaupun mengandung sesuatu yang tidak baik bagi pencernaan anak kecil, tapi itu lebih baik daripada kamu mati konyol.
Seorang lagi berpendapat, mati konyol (jam ini) lebih baik daripada harus meminum minuman yang mengandung bahan tak begitu berbahaya yang itu saja bias dengan mudah ditangkis oleh system imun anak dengan kosekuensi kadar penderitaan tak begitu berpengaruh.
Hujatan besar-besaran tersebut bukankah selama ini hanya melulu digemborkan oleh Indosiar saja yang mungkin merasa kecolongan start dalam mengadakan reality show serupa melalui AFI Junirnya?
Kambing hitam yang selalu saja muncul bermula dari pertelevisisan.
Kecuali dari sudut pandang agama, semua hujatan tersebut sangat beralasan.
(Layar, Lutfi Syarifudin)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar