
Cukupkah talenta seseorang mampu menjadi syarat untuk menjadikannya seorang bintang? Kalau pertanyaan ini ditujukan untuk acara Variety Show yang belakangan tengah marak, tentu saja tidak. Masih ada satu syarat lagi yang mujarab mempengaruhi nilai jual calon bintang itu, apa lagi kalau bukan sad story, alias kisah sedih.
Apapun tujuan Variety Show yang menjadi programa di salah satu kanal televisi kita, dengan sendirinya akan menanggalkan idelisme asalnya. Yaitu ketika menyadari fakta bahwa kisah suram yang berpotensi mengundang simpati, mampu mendongkrak polling sang kontestan. Very AFI menjadi bukti nyata. AFI yang dianggap sebagai pelopor tontonan ajang pencarian bakat di Indonesia ini, pada babak awal sudah kebobolan dengan sistem penjurian yang tidak fair ini. Acara yang sejatinya sebagai wadah pemilihan entertrainer berkualitas, menjadi lumpuh karena lahirnya sang juara tak lagi diukur dengan kualitasnya, melainkan melalui seberapa banyak fansnya. Itulah alasan mengapa Bertha sang guru Vokal AFI tak mau melanjutkan kontrak untuk membimbing para kontesatanAFI pada periode kedua.
Kalau juara AFI ditentukan hanya dengan polling saja, kenapa harus ada guru vokal di situ? dia pun merasa tak dihargai jerih payahnya dalam membangun kualitas vokal anak didiknya. Perkembangan olah vokal para kontestan ternyata tidak berbanding lurus dengan nilai peringkat di perebutan tahta juara untuk AFI.
Setelah Very AFI, yang menjadi bintang karena menjual sad storynya sebagai anak tukang becak, maka setelahnya ada Fiersha, sang gadis tuna netra yang masuk tiga besar di Mamamia, kemudian ada Aris, sang pengamen kerata di Indonesia idol dan terakhir kita memilki Kiki Idola Cilik yang punya papa cacat karena kulitnya pernah terbakar.
Kita selalu saja diminta mewajari sikap janggal Okky Luqman yang dalam satu acara audisi Menuju Pentas Idola Cilik 2, mencoba merubah format Varitey Show, menjadi ajang penggalian simpati semacam Jalinan Kasih di RCTI.
Di Idola Cilik, untuk meraup SMS, selain sang peserta audisi diminta bernyanyi, Okky tak lupa meminta para peserta unjuk bakat lain di sela-sela pemberian komentar oleh para juri.
Kepada Nadya, Okky meminta dia memainkan biola,
sedang untuk Cakka, Okky memintanya unjuk bermain gitar. Namun ketika tiba pada giliran Ellen, yang sebenarnya dia juga mahir bermain gitar, Oky malah tak memberinya gitar, dia malah minta Ellen untuk bercerita tentang keluarganya. Dengan sedikit meunduk Okky berkata pada Ellen, “Ada yang bisa kamu ceritakan kepada seluruh pemirsa yang sedang menyaksikan acara ini sayang?”
Tak samapi 30 detik untuk menuntaskan kisahnya hidupnya, air mata Ellen sudah tumpah tak bisa dibedung. Dia bercerita tentang orang tuanya yang telah berpisah, dan saat ini dia tinggal di panti asuhan, karena sudah 4 tahun tak berjumpa dengan mamanya.
Pada episode Menuju Idola Cilik 2 kamis 27 November kemarin, Okky kembali meminta para kontestan ujuk kebolehan. Tentu tujuannya masih untuk menaikkan add values masing-masing dari mereka. Kepada Agni, Okky memberinya bola dan meminta Agni untuk memainkannya, dia juga meminta Zaskia bermain piano. Tapi kepada Olin, lagi-lagi Oky meminta dia bercerita tentang kisah sedihnya menjadi korban kerusuhan di Ambon.
Please Oky, sad story itu bukanlah sebuah talenta yang perlu kamu gali untuk membantunya menjadi seorang bintang. Kecuali bila kamu memang sengaja sedang mencarikan dia simpati untuk dikasihani.
Sad Story memang efektif mengetuk hati, Seefektif mengalirnya dukungan untuk Kiki ketika berkali-kali papanya disorot oleh kamera. Ketika Okky berkesempatan berdialog dengan papa Kiki, Okky menyempatkan bertanya pada Kiki, “Kamu bangga punya papa seperti papa Kiki saat ini?” Kiki mengangguk.
“Kamu tidak minder sedikitpun?”
Kiki menjawab, “Tidak”.
Tentu cara ini lebih halus untuk Okky supaya tidak mengambil kalimat kasar seperti, “Lihat itu papa Kiki, dia mengalami musibah yang membuat kulit di wajahnya hancur, maka SMSlah Kiki yang banyak, biar kalau Kiki jadi juara Idola Cilik, dan punya uang banyak, papanya bisa operasai!”
Jelas tidak akan pernah seperti itu.
Tak perlulah kita memprotes niatan acara tersebut, kalau memang niatan produser murni hanya mencari seorang idola saja, bukan insan yang berbakat dalam suatu bidang
Pernah suatu saat Billy, pemuda 20 tahun asal Bogor, mencoba peruntungannya dengan mengikuti audisi Indonesian Idol melalui kota Bandug.
Belum sampai dia bertemu Titi DJ cs, oleh co juri, dia sudah ditagih, supaya bisa menceritakan sad storynya. Billy pun gelagepan, karena selama ini dia hidup serba mudah serta jarang mengalami kesusaahn dan kesedihan, kecuali saat dia melayati neneknya yang baru saja meninggal.
Entah karena sad storynya yang teramat standar, atau faktor lain. Toh nyatanya dia tak lolos untuk ikut audisi selanjutnya di Jakarta. Padahal dahulu dia juga pernah mendaftar audisi Indonesian Idol. Bukankah kisah yang dialami Billy ini merupakan pembukatian bahwa variety show saat ini tak lagi murni mencari bakat namun hanya sekedar idola?
Dan idola bisa lahir dari mana saja bahkan kolong jembatan sekalipun, tanpa harus memilki talenta, asal bila saja dia berkesan dan pandai maraup simpati pada pemirsa.
Samapi disini, kedudukan juri tak ubahnya hanya sebagai alibi supaya acara sejenis itu tatap terlihat berjalan dengan layak. Untuk ajang pencarian bakat, semestinya para produser kembali bercermin kepada The Apprentice Indonesia atau the scolar. Acara tersebut merupakan ajang pencarian bakat yang pemirsa sama sekali tak dilibatkan dalam menentukan siapa yang kelak menjadi juaranya. Juri yang berkopeten pun masih memiliki otoritas untuk memberi penilaian sesuai kualitas kontestannya.
Lutfi Syarifudin