Kamis, 05 Maret 2009

kesuliatan action di gunung




Tiga pendakian terakhir yaitu di Sumbing, Merbabu dan Sindoro sedikit bikin aku dan para pendaki mania lain sedikit ilfeel buat ndaki lagi. Padahal dulu kitafeel like dreaming tiap berada di puncak ketinggian.

Gunung-gunung itu sudah berbuah dan tidak seperti dulu lagi.
Jelas sekali kelihatan kerusakan hutan dan permukaan yang parah.
Pendaki serombonganku yang dari mahasiswa UAD sedikit trauma dengan Sumbing.
di Jalur Garung sewaktu kita turun keluar dari hutan, kita merasa tertipu dengan sawah tembakau yang luasnya mencapai puluhan hektar.

Kami sebagai pendaki tentu mengisyaratkan bahwa wilayah ini sudah dekat dengan Base Camp 1 yang berada di pemukiman warga. Saat kami bertemu petani setempat pun, katanya Base camp 1 tinggal 1 KM lagi.

Nyatanya 3 KM kita lalui, masih saja kita belum keluar dari sawah tembakau.
kami kesulitan mencari mata air karena memang kondisi tanah di situ sudah kacau.


Di atas hutan yang kami lewati, terlihat jelas longsor yang begitu besar.
memang sawah yang berjam-jam tak habis kami lalui itu sudah over.

Mata air sulit didapat, jalur pendakian menjadi semakin berbahaya karena permukaan tanah yang sudah labil. Pohon besar untuk berteduh sudah jarang. Banyak yang sudah menjadi arang, banyak yang yang ambruk karena longsor.

Pendakian sekarang sudah tak senikmat pendakian jaman dulu.
semakin bahaya dan tak banyak fasilitas alam yang bisa kami peroleh. So sementara kami stop action untuk jadwal pendakian lain.

Lutfi Syarifudin

Senin, 23 Februari 2009

Prediksiku Benar, Slumdog Millionaire menang

kalo dah baca postinganke kemaren tentang Slumdog Millionaire pasti ngiyakan kalo film tersebut bakal nyabet penghargaan di penghargaan bergengsi perfilman International, seperti yang aku tulis kemaren tentang Slumdog Millionaire, kalo film yang dah berjaya di Golden Globe, pasti bakal berjaya pula di Oscar. Secara emang dah seakan jadi prediksi wajib, bahwa Golden Globe merupakan bayangan dari Oscar.

Prediksiku yang lain dan ternyata benar ada pada Aktor pemeran pembantu terbaik, yang ternyata dan emang wajib harus jatuh pada Heat Ledger yang ngrubah Image Joker sebagai musuh seram Batman, menjadi sosok Joker yang "seksi" .

Revolusi Batman emang dah dirombak sejak kursi sutradara dipegang sama Cristopher Nolan. Di tangan dia Batman yang dalam komik maupun film-film terdahulu digambarkan sebagai sosok pahlawan super hero yang memiliki kekuatan dahsyat.

Nolan merubah Batman sejak dia menyutradarai Batman Begin, awalnya dia sukses menghadirkan batman sebagai manusia alami, tak hyperbolis seperti Spiderman, Fantastic Four apalagi Superman.

Di sekuel keduanya, Nolan merevolusi Joker, tak salah dia menggaet Heath Ledger untuk memerankannya. Terbukti aktor asal Australi itu mampu bermain gemilang di Broukback Mountain yang di sutradarai oleh sineas Taiwan Angg Lee.

Sayang hetah Ledger dah keburu over dosis mpe mati, kalo dia nggak ngedrugs, siapa tau Ang Lee bakal mereuni para pemain andalannya dalam filmnya suatu saat. Dan maybe heath Ledger bakal mein satu film bareng Lola Amalia aktrts Indonesia yang pernah main di filmnya Angg Lee.

Patung manusia kuning untuk Ledger akan dipegang anaknya ketika dia berusia 18 tahun kelak. Sekarang dia baru berusia 3 tahun, jadi simbol pernghargaan itu dipegang ibunya.

di Academy Oscar ke 81 ini, The Curious case of Benjamin Button juga mendapat penghargaan, sama seperti prediksiku di postingan kemaren
tapi sedikit meleset. Aku nyangka film tersebut bakal dapet penghargaan the best Picture, nyatanya bukan itu.

Ni list pemenang yang diumumkan 22 Februari kemaren (kalo di Indo dah tanggal 23 ):

Best Picture

“Slumdog Millionaire”

Best Actor

Sean Penn, “Milk”

Best Actress

Kate Winslet, “The Reader”

Best Supporting Actor

Heath Ledger, “The Dark Knight”

Best Supporting Actress

Penelope Cruz, “Vicky Cristina Barcelona”

Best Director

Danny Boyle, “Slumdog Millionaire”

Kate Winslet sempat dikhawatirkan karena selebaran gelap yang diisukan sebagai bocoran pemenang Oscar tidak dimasukkan. Yah namanya juga selebaran gelab, nggak ngefek pada penjurian asli.

Akting dia di The reader emang top, ya makannya dia menang.

Sedang Sean Penn gak diragukan lagi, dia dulu pernah main di I am Sam bareng Dakota fanning. Gak diragukan, pokoknya siapa saja yang main dengan Faning si bintang cilik edan itu, tentu bukan aktor kelas teri. Pasangan Fanning di tiap filmnya emang pemain dengan kualitas akting hebat.

Yang main dengan faning Ada Britany Murphy di Uptown Gril, , Charlize Theron di Trapped, Tom Cruse di War Of World, Densel Washington di Man Of Fire dll lah,..

Minggu, 11 Januari 2009

Karena Pemirsa Juga Juri







Cukupkah talenta seseorang mampu menjadi syarat untuk menjadikannya seorang bintang? Kalau pertanyaan ini ditujukan untuk acara Variety Show yang belakangan tengah marak, tentu saja tidak. Masih ada satu syarat lagi yang mujarab mempengaruhi nilai jual calon bintang itu, apa lagi kalau bukan sad story, alias kisah sedih.

Apapun tujuan Variety Show yang menjadi programa di salah satu kanal televisi kita, dengan sendirinya akan menanggalkan idelisme asalnya. Yaitu ketika menyadari fakta bahwa kisah suram yang berpotensi mengundang simpati, mampu mendongkrak polling sang kontestan. Very AFI menjadi bukti nyata. AFI yang dianggap sebagai pelopor tontonan ajang pencarian bakat di Indonesia ini, pada babak awal sudah kebobolan dengan sistem penjurian yang tidak fair ini. Acara yang sejatinya sebagai wadah pemilihan entertrainer berkualitas, menjadi lumpuh karena lahirnya sang juara tak lagi diukur dengan kualitasnya, melainkan melalui seberapa banyak fansnya. Itulah alasan mengapa Bertha sang guru Vokal AFI tak mau melanjutkan kontrak untuk membimbing para kontesatanAFI pada periode kedua.

Kalau juara AFI ditentukan hanya dengan polling saja, kenapa harus ada guru vokal di situ? dia pun merasa tak dihargai jerih payahnya dalam membangun kualitas vokal anak didiknya. Perkembangan olah vokal para kontestan ternyata tidak berbanding lurus dengan nilai peringkat di perebutan tahta juara untuk AFI.

Setelah Very AFI, yang menjadi bintang karena menjual sad storynya sebagai anak tukang becak, maka setelahnya ada Fiersha, sang gadis tuna netra yang masuk tiga besar di Mamamia, kemudian ada Aris, sang pengamen kerata di Indonesia idol dan terakhir kita memilki Kiki Idola Cilik yang punya papa cacat karena kulitnya pernah terbakar.

Kita selalu saja diminta mewajari sikap janggal Okky Luqman yang dalam satu acara audisi Menuju Pentas Idola Cilik 2, mencoba merubah format Varitey Show, menjadi ajang penggalian simpati semacam Jalinan Kasih di RCTI.

Di Idola Cilik, untuk meraup SMS, selain sang peserta audisi diminta bernyanyi, Okky tak lupa meminta para peserta unjuk bakat lain di sela-sela pemberian komentar oleh para juri.
Kepada Nadya, Okky meminta dia memainkan biola,
sedang untuk Cakka, Okky memintanya unjuk bermain gitar. Namun ketika tiba pada giliran Ellen, yang sebenarnya dia juga mahir bermain gitar, Oky malah tak memberinya gitar, dia malah minta Ellen untuk bercerita tentang keluarganya. Dengan sedikit meunduk Okky berkata pada Ellen, “Ada yang bisa kamu ceritakan kepada seluruh pemirsa yang sedang menyaksikan acara ini sayang?”
Tak samapi 30 detik untuk menuntaskan kisahnya hidupnya, air mata Ellen sudah tumpah tak bisa dibedung. Dia bercerita tentang orang tuanya yang telah berpisah, dan saat ini dia tinggal di panti asuhan, karena sudah 4 tahun tak berjumpa dengan mamanya.

Pada episode Menuju Idola Cilik 2 kamis 27 November kemarin, Okky kembali meminta para kontestan ujuk kebolehan. Tentu tujuannya masih untuk menaikkan add values masing-masing dari mereka. Kepada Agni, Okky memberinya bola dan meminta Agni untuk memainkannya, dia juga meminta Zaskia bermain piano. Tapi kepada Olin, lagi-lagi Oky meminta dia bercerita tentang kisah sedihnya menjadi korban kerusuhan di Ambon.

Please Oky, sad story itu bukanlah sebuah talenta yang perlu kamu gali untuk membantunya menjadi seorang bintang. Kecuali bila kamu memang sengaja sedang mencarikan dia simpati untuk dikasihani.

Sad Story memang efektif mengetuk hati, Seefektif mengalirnya dukungan untuk Kiki ketika berkali-kali papanya disorot oleh kamera. Ketika Okky berkesempatan berdialog dengan papa Kiki, Okky menyempatkan bertanya pada Kiki, “Kamu bangga punya papa seperti papa Kiki saat ini?” Kiki mengangguk.
“Kamu tidak minder sedikitpun?”
Kiki menjawab, “Tidak”.

Tentu cara ini lebih halus untuk Okky supaya tidak mengambil kalimat kasar seperti, “Lihat itu papa Kiki, dia mengalami musibah yang membuat kulit di wajahnya hancur, maka SMSlah Kiki yang banyak, biar kalau Kiki jadi juara Idola Cilik, dan punya uang banyak, papanya bisa operasai!”
Jelas tidak akan pernah seperti itu.

Tak perlulah kita memprotes niatan acara tersebut, kalau memang niatan produser murni hanya mencari seorang idola saja, bukan insan yang berbakat dalam suatu bidang

Pernah suatu saat Billy, pemuda 20 tahun asal Bogor, mencoba peruntungannya dengan mengikuti audisi Indonesian Idol melalui kota Bandug.
Belum sampai dia bertemu Titi DJ cs, oleh co juri, dia sudah ditagih, supaya bisa menceritakan sad storynya. Billy pun gelagepan, karena selama ini dia hidup serba mudah serta jarang mengalami kesusaahn dan kesedihan, kecuali saat dia melayati neneknya yang baru saja meninggal.

Entah karena sad storynya yang teramat standar, atau faktor lain. Toh nyatanya dia tak lolos untuk ikut audisi selanjutnya di Jakarta. Padahal dahulu dia juga pernah mendaftar audisi Indonesian Idol. Bukankah kisah yang dialami Billy ini merupakan pembukatian bahwa variety show saat ini tak lagi murni mencari bakat namun hanya sekedar idola?
Dan idola bisa lahir dari mana saja bahkan kolong jembatan sekalipun, tanpa harus memilki talenta, asal bila saja dia berkesan dan pandai maraup simpati pada pemirsa.

Samapi disini, kedudukan juri tak ubahnya hanya sebagai alibi supaya acara sejenis itu tatap terlihat berjalan dengan layak. Untuk ajang pencarian bakat, semestinya para produser kembali bercermin kepada The Apprentice Indonesia atau the scolar. Acara tersebut merupakan ajang pencarian bakat yang pemirsa sama sekali tak dilibatkan dalam menentukan siapa yang kelak menjadi juaranya. Juri yang berkopeten pun masih memiliki otoritas untuk memberi penilaian sesuai kualitas kontestannya.

Lutfi Syarifudin

sinetron, Atas Nama rating



Manfaat judul sinetron adalah sebagai pintu yang bisa menghubungkan pemirsa dengan isi ceritanya. Di era tahun 90-an judul sinetron mempu menjadi deskripsi apa yang hendak dikisahkan sinetron tersebut. Sebut saja judul sinetron seperti Istri Untuk Suamiku, Janjiku, Saat Memberi Saat Menerima, Air Mata Ibu,.dan sebagainya. Dengan membaca judulnya saja kita sudah dapat mengira-ira isis ceritanya. Karena pada era saat itu, para sineas sinetron masih memiliki keseriusan dalam menggarap karya mereka.

Apalagi bila kita semakin jauh membandingkan dengan sinetron yang lebih kuno lagi, di era tahun 80-an, di kanal TVRI, kita kerap disuguhakn dengan sinteron-sinetron melaayu kolosal yang bila kita lihat penggarapannya, benar-benar maksimal untuk bisa dinikmati .

Keseriusan begitu bisa dirasakan dengan melihat pakaian adat yang dikenakan para pemain. Logat serta dioalognyapun begitu asli, bahkan tim sineasnya mau merombak properti dari rumah hingga jalan yang mulannya aspal menjadi jalan berupa tanah. Hal itu demi bisa mampu mendesrkripsikan gambaran tahun saat cerita tersebut berlangsung.Bayangkan betapa rumitnya membangun suasana kampung era Siti Nurbaya di tahun 80-an yang sudah modern!

Seiring berjalannya waktu, ternyata peerkambangann sinetron tidak berbanding lurus dengan kualitasnya. Idealisme sang sutradara kerap terkalahkan oleh kerakusan sang produser yang membuat sinetron menjadi sebuah industri yang mengahsilkan royalti sangat besar. Demi memenuhi pesanan tayangan di televisi, produser terlalu memaksakan ketersediaan produksi sinetron tiap episode dengan asal-asalan.

Motivasi produser yang hanya memburu uang saja, bisa diindikasikan dengan banyaknya kemunculan sinetron yang menjadikan nama tokoh utama sebagai judul sinetron tersebut. Tujuan itu tak lain hanya untuk menyelamatkan rating dari judul yang sudah membawa cerita.

Maksud judul yang sudah membawa cerita adalah judul-judul yang mewakili narasi ceritanya, seperti judul sinetron era 80-an. Bisa ambil contoh judul sinteron Saat Memberi Saat Menerima, yang tentu saja dari judul tersebut sudah sedikit mampu berkisah tentang kisah pemberian dan penerimaan. Dengan judul itu pula, ending pada cerita tersebut sudah pasti disiapkan.

Kita bandingakan dengan sinetron Cahaaya, judul yang samasekali tidak membawa pesan cerita apa-apa itu, tentu dimaksudkan sebagai pelarian sang produser untuk menghindari ending yang harus terencana. Dengan judul “cahaya” yang mana kita tidak tahu maksudnya apa, si produser bisa dengan seenaknya menglur-ulur ending selama rating sinetron tersebut masih tinggi, sehingga royaltinya terus mengalir.

Saat ini begitu banyak bermunculan produser yang juga terjangkit syndrom materialistis seperti yang ngetren saat ini. Mereka mengesampingkan mutu, kualuitas ,serta pesan yang diabawa dan beralih dengan mengejar royalti belaka dengan terus saja memprtahankan masa tayang selagi rating belum turun.

Mira.W, seorang dokter yang dari buah imajinasinya mampu melahirkan novel-novel berkualitas, yang pada tahun 90-an mampu diangkat ke dalam script sinetron,
Saat ini terpakasa harus tersingkir. bukan karena mutu yang kurang, namun karena tidak sesuai dengan keinginan produser.

Sekarang, banyak produser yang lebih mempercayakan penggarapan ceria dan scenario kepada script writer yang memilki produktifitas tinggi walau tak diimbangi dengan kualitas tinggi pula. Serena Luna menjadi contoh script writer langganan Production House (PH) Sinemart. Dalam penggarapannya, Serena Luna terlalu memaksa menghadirkan cerita dalam sinetron Candy. Candy sebagai tokoh prontagonis, selalu saja dipertemukan dengan banyak tokoh yang munncul tiba-tiba tanpa ada kaitannya dengan cerita asal hanya demi melangsungkan episode yang harus berjalan. Karena saking digenjotnya reputasi Candy sebagai gadis baik, malah memberi efek pencitraan bahwa dia merupakan manusia idiot yang tak memiliki sisi yang hitam.

Dalam kasus ini, siapa yang dsalahkan? Produser bukanlah tersangka utama.
Justru kita dapati para pemirsa, terlebih ibu-ibu yang malah bisa dijadikan kambing hitamnya. Sebab menjamurnya sinetron-sinetron kuliatas rendah terebut, disebabkan karena masih setianya pemirsa yang menonton sinetron tersebut. Dengan tidak berkurangnya jumlah penontonnya, maka rating sinetronpun tidak akan pernah turun.
Dengan begitu, para produser tentu tidak akan merampungkan cerita sinetronnya, meski jumlah episode sudah sedemikian banyak.

Lutfi Syarifudin

Rabu, 07 Januari 2009

Mendamba Bond Tanpa Senjata Canggih Dan Gadisnya





Ada dua hal yang selalu ditunggu oleh penggemar fanatik film-film James Bond, yang pertama adalah apa senjata canggih barunya? Dan yang kedua adalah siapa partner wanitanya?

Untuk genre film action yang mengagkat kehidupan seorang agen, senjata canggih tak begitu menarik dibahas. Semakin jauh kita fokus memperhatikannya, semakin kita tertinggal mengikuti alur cerita yang semestinya menjadi tujuan utama kita menonton film. Banyak lompatan logika yang disajikan oleh senjata canggih Bond yang kadang terkesan irasional dan mengada-ada.

Senjata-sejata tak lazim Bond lebih banyak ditampilkan pada film-film Bond era 80-an. Senjata canggihnya “dipaksa” ada saat si agen 007 tersebut berada dalam situasi yang pelik. Ketika Bond terjebak di tengah rawa dan hampir tenggelam, mudah saja baginya untuk bangkit, arloji di tangannya ternyata mampu menembakkan tali kawat ke pohon, kemudian secara otomatis menarik dirinya ke daratan. Kenapa senjata itu ada? Kenapa ceritanya harus ada adegan terjebak di rawa?

Pada beberapa adegan, senjata Bond memang terlihat wajar dan umum dimiliki oleh seorang agen, namun pada adegan-adegsn tertentu, malah senjata yang seharusnya hanya berperan sebagai pelengkap belaka, berubah fungsi menjadi benda yang memiliki otoritas membuat jalur cerita sendiri. Dalam Casino Royal, chip mini yang hanya seukuran satu butir beras, tak akan bisa memberikan pesona kecanggihannya bila Bond menjalani hidup tanpa menemui masalah sedikitpun. Tetapi, bagaimananpun chip mini itu harus mampu membuat penonton berdecak kagum, maka dari itu, si antagonis yang cerdik, terpaksa harus menanggalkan idealisme kecerdikannya dengan menyerang Bond menggunakan cara paling tak berwibawa, yaitu meracuninya. Terlalu pintas untuk musuh sekelas antagonis Bond.

Dengan sekaratnya Bond, maka keajaiban mandraguna chip tersebut bisa dimainkan, entah apa logikanya, Chip tersebut menjadi benda ajaib yang bisa menghubungkan dia dengn M, bos utamanya. Bahkan berkomunikasi lagsung dengan markas, hingga mengidentifikasi gejala tubuh Bond.

Kita menonton film tentu untuk mngikuti alur ceritanya, namun emosi dan intelektual kita, kadang juga dipaksa ikut bermain dengan racikan adegan menegangkan, menyedihkan, dan lain sebagainya. Bond pun demikian, kita yang hanya ingin mengikuti kisahnya, juga dituntut untuk menganalogikan senjata-senjata mutakhirnya.

Posisi sama dengan senjata Bond juga dialami oleh partner wanitanya, atau lebih dikenal dengan “gadis bond”. Kedudukan mereka hanya difungsikan sebagai pelengkap untuk membumbui nilai tambah belaka. Karena itu, sengaja Vesper Lynd ( Eva Green ) sang gadis Bond dalam Casino Royal, terpaksa harus mati di film tersebut.

Dengan matinya Vesper, di Quantum of Solace film terbaru Bond, Daniel Craig bisa menggandeng wanita lain. Kali ini dua wanita sekaligus yang berada disampingnya yaitu Olga Kurylenko dan Gemma Arterton.
Apa motif pembunuhan Vesper? Tentu karena adegan baku hantam dengan musuh, bila kita lihat melalaui ceriatanya. Tapi coba tanya Barbara Broccoli dan Michael Wilson sang produser, jelas bukan itu jawabannya. Karena merekalah sang pembunuh Vesper sebenarnya, mereka mengiginkan Vesper mati dalam film Casino Royal, sehigga memiliki alasan untuk melahirkan gadis Bond lain.
Para penggemar yang tadinya sudah ngeh dengan Vesper, kembali diberi “PR” untuk mengira-ira sang gadis Bond baru itu. Apakah pendamping Bond kali ini sama dengan Vesper? lebih cantik atau lebih jelek? Kenal dengan Bond di mana? Apa karakter yang ada padanya?

Mestinya Bond harus merasa tersindir dengan trylogi film Bourne, film agen yang diperankan oleh Matt Damon itu justru bertolak belakang dengan Bond. Dalam tiga film Bourne, yaitu Bourne The Bourne Identity,
The Bourne Supremacy dan The Bourne Ultimatum Matt Damon tak diidentikkan dengan senjata canggih, dia juga teramat dingin dengan wanita..
Namu justru di situ daya tariknya. Tanpa senjata canggih dan wanita seksi, Bourne mampu menjadi film yang memikat. Semsetinya Bond bisa bercermin dengan Bourne.

Gadis Bond lain, lebih dari satu pula, menjadi magnet para penontonnya.

Lutfi Syarifudin

Jumat, 26 Desember 2008

Soul,....

On the night like this,.....
There's so many things I want to tell you

On the night like this,...
There's so many things I want to show you

Cause when you're around
I feel safe and warm,....

cause you are around
I can fall in love every day,...

In the case like this
There are a thousand good reasons
I want you to stay

Senin, 15 Desember 2008

Rectoverso: Sentuh Hati dari Dua Sisi (11 Kisah)

Dari "Super Nova", "Filosofi Kopi", Akhirnya sampai di "Recto Verso"...
Ada yang berubah dan tidak berubah dari Dee ( Dewi Lestari )
idelisme nulis dia dan pengantarnya di awal buku.
Sebagai pembaca karya Dee, rasanya aku harus melepas karya tersebut dari penulisnya, aku harus membaca sambil pura-pura tak mengenal Dee, minimal tak mengenal Zeus atau Arina.

Ketika membaca "Recto Verso" aku tak boleh mendengar album "Recto Verso" melalui Winamp tak boleh itu,..
kalau tidak kepalaku bisa hancur.

Ini memang benar-benar kutukan Dee buatku, manjur, mujarab,..semujarab dia meramu "Recto Verso".

"Recto Verso" lebih memiliki manfaat buatku untuk membunuh orang!!